Ketika karier runtuh dan cinta hanya menyisakan luka, seorang pria muda memilih untuk menjauh dari hiruk pikuk kota dan ikut retret budaya di Pulau Sumba. Dalam langkah-langkah sunyi menyusuri bukit, napas terengah di bawah matahari timur, dan malam-malam ditemani kisah leluhur yang dibisikkan lewat nyanyian adat, ia perlahan melepaskan satu per satu topeng yang selama ini melekat. Angin kering yang berhembus dari padang savana bukan hanya menyapu debu, tapi juga menyuarakan kebenaran yang telah lama ia kubur.
Di tengah ritual penyucian, tarian pemanggil roh, dan percakapan diam dengan alam, ia menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar ketenangan—ia menemukan dirinya sendiri. Buku ini adalah catatan spiritual yang lahir dari perjumpaan antara luka dan tradisi, antara kehilangan dan penemuan, antara suara dunia dan suara batin. Sebuah kisah yang mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan mungkin—seperti dia—kembali pulang ke dalam diri sendiri.