Ketika Rafi menemukan kacamata tua di loteng rumahnya, ia hanya mengira itu barang rongsokan. Tapi satu kilatan cahaya mengubah segalanya—membawanya ke tahun 1945, masa ketika anak-anak belajar menjadi dewasa sebelum waktunya. Di tengah dentuman bom dan langkah pelarian, ia bertemu Sari, Arga, Wira, dan Bima—anak-anak pemberani yang menyimpan luka, harapan, dan sebuah pesan terakhir yang belum pernah sampai pada penerimanya.
Rafi tidak punya peta, tidak punya senjata, dan tidak punya alasan untuk terlibat—kecuali satu: seorang ayah menitipkan pesan kepada putrinya sebelum ajal menjemputnya. Dalam dunia yang hampir runtuh oleh perang, Rafi belajar bahwa keberanian tidak selalu muncul dari kekuatan, melainkan dari kemauan untuk hadir. Dan bahwa pesan paling penting dalam hidup, sering kali bukan yang tertulis… tetapi yang hanya bisa dibawa oleh hati yang jernih.
“Perjalanan Waktu ke Masa Perang” adalah kisah petualangan yang lembut, penuh kehangatan, dan menyentuh sisi kemanusiaan paling sederhana. Cerita tentang anak biasa yang melakukan sesuatu yang tidak biasa—dan menemukan dirinya sendiri di antara dua masa yang berbeda. Novel ini akan mengajak pembaca menyelami rasa kehilangan, persahabatan, dan harapan yang tidak pernah mati, bahkan di tengah dunia yang paling gelap.
jml halaman: 178
ukuran: 14×20,5 cm