Mereka disebut pengganggu, pemimpi, bahkan pembangkang. Tapi tidak ada dari mereka yang menyerah. Di sebuah sekolah yang belum siap menerima keberadaan tim sepak bola perempuan, sekelompok remaja perempuan menolak menjadi penonton. Mereka bukan cuma ingin menendang bola mereka ingin diakui. Dari lapangan belakang yang penuh rumput liar hingga pertandingan penuh cemooh, mereka membuktikan bahwa keberanian tidak selalu soal menang. Ini adalah kisah tentang peluh yang dibayar dengan persahabatan, air mata yang tumbuh jadi kekuatan, dan tekad yang terus berlari meski dunia mencoba menghalangi. Karena mereka bukan cuma penonton.