Di rumah tua yang menyimpan terlalu banyak kenangan, mereka dipaksa duduk dalam satu meja. Membuka lembar demi lembar isi surat yang bukan hanya membagikan harta, tapi juga membuka luka lama yang selama ini dibungkam.
Konflik masa kecil, kesalahpahaman yang membusuk, dan rahasia yang terlupakan satu per satu muncul ke permukaan. Di antara rasa kehilangan dan amarah yang belum sembuh, mereka harus memilih: membangun kembali keluarga yang hampir runtuh, atau kembali meninggalkan semuanya dalam diam seperti dulu.
“Surat Terakhir Ayah” adalah kisah tentang keluarga, luka batin, dan upaya mencintai tanpa syarat. Sebuah cerita yang akan mengingatkan bahwa pulang tak selalu soal tempat—kadang, itu tentang menyembuhkan hati yang pernah ditinggalkan.