Ada sebuah desa yang tidak pernah ditemukan di peta mana pun. Desa yang hanya muncul bagi mereka yang tersesat—bukan tersesat di jalan, tetapi tersesat dari diri sendiri. Mereka yang menemukannya selalu mengaku merasakan damai… namun tak satu pun kembali dengan selamat. Sebagian hilang tanpa jejak, sebagian kembali tanpa nama, dan sebagian lain tidak pernah benar-benar hidup lagi.
Arla tidak pernah berniat menemukannya. Ia hanya berjalan tanpa tujuan, mencoba melupakan masa kecil yang retak, masa depan yang samar, dan bagian dirinya yang hilang entah sejak kapan. Namun desa itu memanggilnya. Dari sumur yang tak memantulkan wajah, dari dinding yang menyimpan suara, dari hujan yang membuka gerbang ke tempat yang seharusnya tidak ada. Di sana, Arla bertemu masa kecilnya, masa gelapnya, dan masa depannya yang ia tolak—semuanya mengambil bentuk manusia.
Setiap langkah yang ia ambil membuat desa semakin hidup, dan setiap pilihan yang ia buat membawa konsekuensi yang tidak bisa dicabut. Ketika buku kayu dari dinding desa mengungkapkan kematian yang belum terjadi, Arla menyadari satu hal: untuk pulang sebagai dirinya sendiri, ia harus membawa keluar kisah yang desa sembunyikan selama berabad-abad. Jika tidak, dunia akan melupakannya selamanya.
“Desa yang Tak Pernah Ada di Peta” adalah kisah misteri psikologis yang lembut namun menghantui, tentang kehilangan, keberanian, dan perjalanan pulang yang tidak selalu berarti kembali ke rumah. Ini adalah cerita tentang mereka yang hilang, mereka yang menunggu, dan mereka yang berani menuliskan namanya sendiri agar tidak lenyap dari dunia.
Siapa pun yang membaca buku ini akan bertanya:
Jika suatu hari kau menemukan jalan kecil yang tidak ada di peta… apakah kau cukup berani untuk melewatinya.
jml halaman: 162
ukuran: 14×20,5 cm