Jam 3 pagi di kamar kos—di antara bunyi kipas angin tua, notifikasi yang tak kunjung datang, dan pikiran yang ber-putar seperti kaset rusak—ada seseorang yang masih ter-jaga. Ia tidak sedang menunggu siapa pun, hanya mencoba memahami mengapa hidup terasa sesunyi ini. Buku ini adalah catatan dari malam-malam panjang itu, ketika sunyi bukan lagi musuh, tapi ruang kecil untuk berdamai dengan diri sendiri.
Memoar sunyi dari anak muda yang hidup di ruang sempit dengan pikiran terlalu luas untuk dipahami. Melalui catatan harian, fragmen kenangan, dan dialog dengan kesepian, penulis mengajak pembaca menyelami perasaan yang sering kita hindari: takut gagal, takut tidak dimengerti, tapi juga takut benar-benar sendiri. Inilah kisah tentang tumbuh tanpa arah yang pasti, tapi tetap berusaha menyalakan lampu kecil di tengah gelapnya kamar kos.
156 halaman
14×20,5 cm